Seorang kawan pernah berujar, “Aku ingin menjadi orang kaya, dan kan kugunakan kekayaanku tuk menolong orang lain tersenyum bahagia”. “Kan kutolong orang-orang miskin, kan kusumbang panti-panti asuhan dan yayasan-yayasan penyandang cacat”. “Meski kaya harta, aku kan tetap hidup sederhana”.
Setahun sudah berlalu, dan kini saya bertemu lagi dengannya. Kita kembali berjalan bersama. Kali ini dengan kondisi yang sudah berbeda sekali. Hampir-hampir tiada lagi bekas dari ucapan yang pernah ia ucapkan setahun yang lalu. Ketika di jalan dago melintas sebuah jaguar di depan kita, dia lansung berujar, “Kelak aku akan membeli mobil seperti itu”. “Saat ini innova ini dulu saja lah…”. Saya pun hanya dapat tersenyum mendengarnya.
Selama hampir sebulan bersamanya, benar-benar sudah tiada lagi bekas ucapannya yang dulu. Jangankan menyumbang panti-panti asuhan dan yayasan-yayasan penyandang cacat, memberi sedekah kepada pengemis di lampu merah pun tidak! Pembantu di rumah digaji dengan bayaran yang tidak layak, tidak sesuai dengan pekerjaannya. Dan masih banyak hal lain yang sangat bertolak belakang dengan ucapan idealisnya yang dulu.
Saat ini, saya tidak sedang akan mengulas tentang kegiatan-kegiatan sosial, menolong orang lain atau apa pun yang berkaitan dengan hal itu. Saya hanya tergerak untuk memahami mengapa pada umumnya seiring dengan bertambahnya waktu orang menjadi semakin kehilangan idealismenya.
Bukan berarti tidak ada orang yang tetap dapat menjadi seorang yang idealis, yang tetap memegang teguh prinsip-prinsip ideal, bahkan menjadi lebih idealis lagi. Ada, tetapi jarang!!!
Saat TPB dulu (kuliah tingkat 1), seorang kawan yang lain pernah juga pernah berkata, “Tidak ada cerita saya mencontek saat ujian!”. Tiga tahun kemudian, ketika saya menjadi pengawas ujian salah satu mata kuliah tingkat dua, saya melihatnya berjama’ah dengan beberapa teman yang lain, saling memberikan contekan saat ujian. Beberapa akademisi, tokoh LSM, para mantan aktifis kampus, bahkan beberapa aktifis keagamaan juga mulai kehilangan idealismenya ketika memasuki sebuah ‘dunia’ yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya.
Mengapa fenomena tersebut dapat terjadi? Apa sebabnya? Apakah itu karena faktor lingkungan? apakah itu karena kondisi kehidupannya? apakah itu karena faktor ekonomi? apakah karena adanya suatu ancaman? atau apakah itu karena memang seorang tidak punya cukup ‘karakter’ untuk tetap menjadi seorang yang idealis? atau karena apa? Terlalu banyak kerumitan untuk dapat memahaminya. Kesemua hal itu dapat saja menjadi faktor utama ataupun hanya sebagai penyulut sebab hilangnya atau lunturnya idealisme seseorang.
Satu hal yang menurut saya penting agar kita tetap idealis: sebuah komunitas! Sebuah komunitas yang berisi orang-orang yang memiliki kesamaan visi, at least persamaan umum dalam hal idealisme, dalam kebaikan. Yah, sebuah komunitas. Komunitas yang memungkinkan kita untuk dapat berinteraksi satu sama lain dengan lebih intens. Tentu saja, di sini sebuah pertemuan fisik menjadi sangatlah penting. Perlu diadakan pertemuan fisik secara rutin. Komunitas menjadi tempat untuk saling berbagi dan berdisukusi, belajar antara satu dengan yang lain. Adanya keterikatan emosional dan semangat yang sama untuk tetap memegang prinsip kebaikan ini akan sangat mendukung tiap individu-individu dalam kelompok untuk tetap menjaga idealisme dan ‘karakter’nya.
Dunia ini begitu ‘keras’. Terlalu sulit untuk bertahan sendirian…,,,
Semoga Yang Maha Memberi Petunjuk senantiasa Memberikan petunjuk pada kita semua, amin…
Aku ingin menjadi orang kaya yang dermawan
Aku ingin menolong orang-orang miskin dan orang yang tak mampu
Aku ingin mengasuh anak-anak yatim dan yatim piatu
Aku ingin membahagiakan orang-orang di panti sosial
Aku ingin membuat orang lain bisa tersenyum karenaku
Aku tetap ingin hidup sederhana
