Kemarin sore, saya mendapatkan telepon dari kakak saya yang pertama (saya punya 3 orang kakak). Dia menanyakan mengenai bagaimana cara melihat kondisi/ruang di dalam bumi/di dalam tanah. Apakah bisa dilihat dengan pencitraan satelit, atau ada cara lain. Saya heran, tumben-tumbennya dia menanyakan hal yang seperti ini. Usut punya usut, ternyata dia ingin mengetahui bagaimana cara mengetahui kondisi bawah tanah di daerah huniannya (di perumahan Juanda Harapan Permai Sidoarjo, dekat bandara Juanda – sekitar 15 sampai 20 Km dari pusat semburan lumpur Lapindo) menyusul kejadian lumpur lapindo di Porong yang sudah berbulan-bulan lamanya. Rupanya ada kabar yang beredar di kantornya bahwa daerah tempat tinggal kakak adalah daerah yang terkena imbas tidak langsung, efek dari kejadian semburan lumpur lapindo. Kabar tersebut menyatakan bahwa semburan lumpur yang keluar saat ini sudah berasal dari dalam tanah di daerah tempat tinggal kakak. Jadi, dia ingin tahu bagaimana caranya melihat kondisi di bawah tanah tempat tinggalnya. Intinya dia ingin tahu apakah benar berita tersebut. Awalnya saya tanggapi biasa saja pertanyaan tersebut. Saya hanya jawab :”Iya, nanti saya coba cari tahu bagaimana caranya.”
Tapi baru sekitar 20 menit yang lalu kakak kembali menelpon dengan nada suaranya terkesan sedang gusar.
Dan benar saja, ternyata saat ini dia sedang panik sekali. Ternyata pertanyaannya yang kemarin sore itu sangat serius sekali. Dia benar-benar sedang mencari informasi tentang kebenaran berita yang dia tanyakan kemarin sore itu. “Kuli-kuli bangunan yang sedang membangun pondasi di perumahan tempat tinggalku bilang, tiap dikeruk dan dipadatkan tanahnya turun/’ambles‘ ke bawah, ini tidak seperti biasanya”, kata kakak. Dia juga mengatakan bahwa teman kantornya ada yang punya foto pencitraan dalam bumi yang menggambarkan bahwa daerah tempat tinggal kakak termasuk yang di bawah tanahnya kesedot dan keluar di lumpur Lapindo Porong.
Lebih lanjut dia juga mengatakan bahwa ada berita (yang tidak diketahui kebenarannya) bahwa ahli-ahli geologi indonesia telah berkumpul dan mengatakan bahwa daerahnya memang sudah termasuk daerah yang rawan turun/’ambles’ tanahnya. Kakak memang benar-benar panik, sampai sudah berencana untuk pindah rumah ke daerah lain. Tadi saya pun coba menenangkannya. Saya bilang:”Tenang saja, berita itu hanya isu. Belum separah itu. Mungkin itu hanya kerjaan ornag-orang yang ingin beli rumah dengan harga murah”. “Oke deh, nanti aku coba carikan info lebih lanjut mengenai hal ini,” tambah saya. “Tapi cepat ya, dan segera informasikan!” balas kakak.
Secara logis memang masuk akal sekali bahwa sekian banyak lumpur yang keluar di Porong itu sudah merupakan material yang berasal dari bawah bumi di daerah-daerah lain yang terus mengalir ke pusat semburan lumpur. Meski memang ada pertanyaan-pertanyaan di benak saya mengenai bagaimana mekanismenya sehingga material dari daerah lain dapat mengalir ke porong. Bila itu bisa, tentu perlu energi yang besar untuk mengalirkannya. Tapi entahlah, saya juga tidak paham dengan hal-hal seperti ini. Tapi yang jelas, seharusnya pihak-pihak yang berkompeten, dalam hal ini adalah pemerintah, dapat mengeluarkan statemen yang jelas mengenai hal tersebut, sehingga tidak menimbulkan kegelisahan dan kecemasan di masyarakat yang terguncang oleh isu-isu yang tidak jelas kebenarannya.
Geng, coba tanya ke Pakde Rovicky (yang juga mengelola hotmudflow)… mungkin bisa dapet info yang baik dan terpercaya
Ok Goys. Tengkyu. ntar coba nanya ke dia
Jadi gmana mas? Udah dapet info yg terpercaya???
?; belum. Mau bantuin nyariin?
What can i do?