Saya jadi teringat dengan materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sri Hardjoko mengenai added value (di mata kuliah semester 3 – proses produksi 1) saat membaca email-email yang sedang mendiskusikan tentang masalah added value ini di salah satu mailing list. Semakin kita dapat memberikan nilai tambah terhadap produk/barang yang akan kita jual, semakin tinggi pula harganya. Benar juga, mengapa kita tidak menjual ‘produk’ yang telah diolah sedemikian sehingga ‘added value’nya sudah seoptimal mungkin. Bila demikian tentunya keuntungan yang kita peroleh akan meningkat, bahkan mungkin berlipat-lipat. Sebenarnya apa yang menjadi hambatan, kok tidak meningkatkan added value-nya.
Berikut ini akan saya tampilkan cuplikan diskusi tersebut (belum seijin penulis maupun mailing list yang bersangkutan, dan ada beberapa yang saya hide – *****-).
Diskusi berawal dari postingan berita di salah satu media mengenai laba bersih PT Aneka Tambang Tbk di triwulan pertama tahun 2007 yang diperkirankan Rp 1 Triliun hingga Rp 1,1 Triliun, melonjak hingga tujuh kali lipat dibanding triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Kemudian ada tanggapan dari peserta milis lainnya sebagai berikut :
Saya tidak bangga dengan prestasi PT.Antam ini.
Saya pikir perlu dikoreksi prestasi PT.Antam karena ada penjualan Bauxite yang informasinya tidak muncul kepermukaan. Menurut laporan Metal Bulletin Research,pada tahun 2007 ini, PT.Antam akan menjual 9,6 juta ton ke China dengan harga 34 US$/ton. Jika pada triwulan pertama sudah terjual 2,4 juta ton maka hasil penjualan Bauxite = 2,4 juta ton x 34 US$/ton = 81,6 juta US$ atau kira2
Rp 734.400 Juta sekitar Rp 0,7344 Triliun
Tahukah anda bahwa dibalik hasil penjualan Rp 0,7344 Triliun ini sebenarnya kita kehilangan Added Value yang jauh lebih besar? Begibi ceritanya.
Jika Bauxite itu tidak dijual begitu saja tetapi diolah dulu menjadi Alumina kemudian diolah menjadi Aluminium, maka harga jual Aluminium Ingot saat ini sekitar 2.800 US$/ton. Jika tiap ton Aluminium membutuhkan 4 ton Bauxite maka hasil penjualan Aluminium adalah (2,4/4) juta ton x 2.800 US$/ton = 1.680 Juta US$ atau sekitar Rp 15.120.000 juta = Rp 15,12 Tiliun. Sehingga kita kehilangan devisa = (1.680 – 81,6) Juta US$ = 1.598,4 Juta US$ atau sekitar Rp 14.385.600 Juta = Rp 14,3856 Triliun. Jadi jika Antam pada triwulan pertama teriak raih untung Rp 1 Triliun, maka sebenarnya Rakyat yang mengerti akan menangis karena SEBENARNYA NEGARA KEHILANGAN sekitar Rp 13,4 Triliun.Jadi sebaiknya CEGAH PENJUALN BAUXITE DARI SINGKAWANG OLEH PT.ANTAM.Karena jika pada tahun 2007 ini terjual 9,6 Juta ton Bauxite maka negara akan kehikangan devisa = {(9,6/4) x 2.800 } – (9,6 x 34) Juta US$ = (6.720 – 326,4) Juta US$ = 6.393,6 Juta US$ atau sekitar Rp 57.542.400 Juta = Rp 57,5424 Triliun. Bayangkan Rakyat masih banyak yang miskin tapi PT.Antam mau membuang UANG RAKYAT seenak udelnya dewek. Semoga DPR segera menuntaskan Undang-undang Larangan Penjualan Bahan Mineral Indonesia. Salam
*** *****
Kemudian ada email lainnya:
*** *****,
maaf ya pertanyaan orang awam, emang berapa sih biaya produksi (cost) (dan/atau investasi) pengolahan Bauxite menjadi per ton Aluminium? Koq ngga ada sih dalam perhitungan anda?
Trims dan salam,
Berikut tanggapan selanjutnya:
Sekalian jawab pertanyaan/pendapat temen2 :
Urutan proses produksinya ada beberapa tahap:
1.Bauxite ———> Alumina : Belum dibangun di Indonesia
2.Alumina ——–> Aluminium Ingot : Sudah ada di Asahan (250.000 tpy)
3.Al Ingot ———> Semi Product/Aluminium Alloy : Sdh ada di Indonesia
4.Al Alloy ——–> Al Finish Product : Sudah ada di Indonesia
Khusus untuk Pabrik Aluminium Ingot Alloy dan Finish Product, di Indonesia sudah lebih dari 40 pabrik. Kebutuhan Aluminium domestik saat ini karena baru beroperasi dengan kapasitas sekitar 50 % adalah sbb.:
1.Aluminium Ingot = 110.000 tpy.
2.Billet (Al Alloy) = 18.000 tpy
3.Slab (Al Alloy) = 25.000 tpy
4.Al Scrap = 68.000 tpy (Dari import dan domestik)
Pendapat Pak Egi betul, jika sampai finish product maka Added Value makin tinggi. Saya baru memberi contoh jika diolah sampai Aluminium Ingot saja.
Mengenai Biaya Investasi dan Biaya Produksi, saya ada data sebagian sbb.:
1.Pabrik Alumina
Biaya Investasi untuk kapasitas 500.000 tpy sekitar 100 Juta US$/ton.
Biaya Produksi sekitar 200 US$/ton
Harga Jual Alumina saat ini sekitar 500 US$/ton
2.Pabrik Aluminium (Aluminium Smelter)
Biaya Investasi untuk kapasitas 250.000 tpy sekitar 750 Juta US$ (Tergantung Ketersediaan Infra Structure dan Kapasitas Produksi)
Biaya Produksi saat ini sekitar 2.000 US$/ton (karena Harga Alumina lagi tinggi)
Harga Jual saat ini sekitar 2.800 US$/ton
Ada satu info menarik bahwa di Singkawang akan dibangun Pabrik Alumina tetapi untuk Chemical Grade (Kerjasama antara PT.Antam dengan Jepang). Mengapa bukan produksi Alumina untuk Smelter Grade karena konsumsi Alumina untuk Chemical Grade itu kecil (untuk bikin Tawas,dll)? Kemungkinan penyebabnya adalah karena jika di Indonesia sudah ada Pabrik Alumina untuk Smelter Grade maka ada bisnis supply Alumina ke Asahan dari Australia akan terganggu . Suppliernya Sumitomo , dan Perusahaan Domestic (Siapa yah?). Cape deh
Pak Egi, berapa konsumsi Aluminium untuk PTDI (berapa tpy)? Dan dapat beli darimana tuh, Aluminium Plate,dll?
*** *****
Lalu selanjutnya :
Pssst, Pak Pardi, saya dulu postinya bukan ke **-***, tapi ke ****-*. Saya gak punya data berapa konsumsi Al alloy PTDI, soalnya saya kerja di bidang energi di Timteng.
Oya, di Dubai, dimana saya tinggal, ada smelter aluminium yg besar sekali, Dubai Aluminium (DUBAL), pastinya Pak Pardi pernah dengar. Sekarang sedang melakukan ekspansi kapasitas, konon katanya untuk menjadi smelter terbesar di Dunia. Ini adalah kasus yang kalau diamati menarik sekali, dimana Dubai, Emirat kecil yang tidak punya tambang bauxite dan produksi minyaknya sedikit bisa mempunya smelter besar. Visi penguasa Dubai dulu, daripada mengekspor minyak yang Cuma sedikit, lebih baik minyaknya dijadikan bahan bakal pembangkit listrik untuk mengolah alumina, dimana value addnya lebih besar daripada menjualnya sebagai minyak mentah, apalagi dulu harga minyak bergejolak terus.
Dan ada tanggapan lagi sebagai berikut:
Saya sudah dengar info tentang DUBAL. Itu adalah pola pikir yang cerdas. Salah satu manfaat Crude Oil untuk Industri Aluminium adalah residu hasil Oil Refinery, pada proses Delay Coking dihasilkan Green Coke yang selanjutnya setelah dikalsinasi dihasilkan Calcined Coke yang digunakan sebagai Anoda pada proses Elektrolisa Alumina menjadi Aluminium. Harga Calcined Coke saat ini sekitar 300 US$/ton. Bandingkan dengan harga Crude Oil sekitar 65 US$/barrel..
Sebenarnya Peningkatan Kapasitas Aluminium Smelter yang sangat ambisius adalah di CHINA.Sebelum tahun 2003 kapsitasnya 2,3 Juta tpy. Pada akhir 2003,kapasitasnya 6 Juta tpy (sama dengan USA). Saat ini kapasitasnya 8 Juta tpy. Dan pada tahun 2013 target kapasitasnya 12 Juta tpy. Demand di China pada 2013 sekitar 14 Juta tpy. Dubai masih kecil. Akibat pesatnya perkembangan industri dan pembangunan infra struktur China dan Olimpiade 2008 di Beijing, maka Bisnis Aluminium sampai 2015 sangat cerah.
Memang menggali Bauxite, menggali Batubara, atau menebang Hutan lalu menjualnya akan cepat dapat uang,tapi kerja seperti itu CARA KERJA YANG PRIMITIVE bukan CARA KERJA YANG CERDAS karena sebenarnya masih besar sekali kesempatan memperoleh pendapatan yang jauh lebih tinggi untuk membangun negeri ini. Ingat RAKYAT MASIH BANYAK YANG MISKIN.
Jual Batubara harganya sekitar 35 US$/ton, tapi jika Batubara diproses jadi Calcined Coke harganya 300 US$/ton dan Coal Tar Pitch harganya 350 US$/ton.
mas, gak ngitung biaya produksi aluminium po?
kok semena2 bilang kalo jualan bauksit rugi.
ingat energi untuk produksi alumina lumayan besar, dan masih lebih besar lagi untuk produksi aluminium
saya juga heran, kenapa sih asal ngomong tentang bauxite. saya ini pekerja tambang bauxite, sangat sulit untuk berbicara seperti, dengan kata lain menjual tanah air. Itu ngomongan ngawur. Biaya pembuatan pabrik alumina itu mahal bung, jangan asal ngomong. Komentar aja sih gampang, tapi yang menjalani ini, bisa jungkel.
kalo ga tau jangan bersuara deh, bikin panas ati aja
Nugrohoadipratama,
Maaf, saya memang tidak menghitungnya, karena saya tidak tahu. Yang saya posting di sini adalah email dari beberapa orang di salah satu mailing list yang saya ikuti. Tapi, coba dibaca lagi tulisannya. Ada biaya produksinya kok. Tapi kalo mas Nugrohoadipratama punya hitungan biaya produksi versi yang lain, ya silahkan dishare di sini. Jadi jelas ukurannya. Tidak hanya pernyataan energi untuk produksinya lumayan besar atau besar. Semuanya diukur dalam uang Bro.
Saya pikir mas nugroho harus memahami bahwa yang dimaksud si pengirim email dengan rugi bukanlah rugi tidak untung. Yang saya tangkap adalah bahwa jualan bauksit itu tetap untung. Tapi yang ingin dia sampaikan adalah bahwa untungnya akan lebih besar lagi jika added valuenya ditambah lagi. Dan itu masuk akal kan?
Yogi,
Saya ini awam tentang biaya produksi bauksite dan alumunium, jadi saya menganggap si pengirim email yang saya postingkan tulisannya di sini itu lebih paham dari saya. Lagi pula, dia juga punya data-data dan hasil hitungannya. Tapi bila mas Yogi lebih tahu atau punya data sendiri, ya silahkan dishare di sini. Dengan demikian, bisa kita cermati bagaimana kondisi sebenarnya. Tapi kalau mas yogi hanya mengatakan biaya produksi alumina itu mahal dan mahal, tanpa menyertakan data-data, nanti malah terkesan mas yogi yang hanya asal ngomong. Silahkan berbagi mas…
sAYA BERGERAK DALAM BIDANG PRODUKSI AL ALLOYS.SAYA NGAK TAU APA YG SALAH PADA PENGAMBIL KEBIJAKSANAAN DALAM BIDANG PERTAMBANGAN, APA PRESIDEN AMPE MENTERINYA YG SUDAH’KENYANG’HINGGA SAYA SUKAR MEMAHAMI. mULAI DARI PNAMBANGAN.. BLA.. BLAA.. BLAA…HINGGA PENDIRIAN pt INALUM YG MENGUNTUNGKAN ‘SIAPA’… BLA.. BLA… BLA… HINGGA TERKADANG SAYA MENGGUNAKAN AL PURE EX LUAR NEGERI …….COMALCO….IRONIS
tUK GREEN COKE–CC(BAHAN DASAR aNODA CARBON)….SELAIN pt iNALUM ADA INDUSTRI YG BOROS MENGGUNAKAN ELEKTRIK ANODA,YAITU INDUSTRI STEEL MILL YG SPT PT KS, JAKARTA STEEL, GUNUNG GARUDA BLA BLA.. BLA…DAN MEREKA MENGHABISKAN RIBUAN DOLLAR PER TAONUNTUK MENGIMPOR BARANG TSB,HERAN SUDAH BERTAUN2 TAK ADA INISIATIF PEMERINTAH TUK MENUNJANG PENDIRIAN INDUSTRI PENUNJANG ATAU INDUSTRI’PIONER’………
—TUK cOKES.. EX BATUBARA h CARBON… SAMA.. BLA..BLA.. BLA
—BESI BATANGAN .. INGOT.. YG SUDAH LAYU WALAU SEMPET TUMBUUH….
—FERRO ALLOY…. SAMA……
KALO NGOMENTARIN INDUTRI HULU KEHILIR KHUSUSNYA BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI MAH BANYAK SEKALI MAS.. CAPE LIAT NGELIAT MREKA NGEBANGGA2IN ANGKA… … SKRG NGEBENAHINNYA MULAI DARIMANA YAH…………
saya salut dengan perhitungan diatas dan termasuk pula komentar yang masuk. kebetulan saya sedang mengkaji pendirian smelter di dlama negeri untuk mengolah konsnetrat dan ore dari beberapa tambang. background saya memang di tambang ajdi ini pasti sangat asik….
di beberapa hasil komoditi tambang Indonesia masih dijual dalam bentuk barang setengah jadi (konsnetrat tembaga, konsentrat timah, ore nikel, ore bauksit dll). praktis harga jualnya tidak terlalu tinggi. padahal dalam konsentrat tembaga itu terkandungn emas dan perak dalam jumlah yg sangat signifikan. jadi kalo kita menjual konsentrat tembaga, kita kehilangan nilai tambah (added value) dari mineral ikutannay.
mungkin yg paling tepat adalah dengan membangun smelter di dalam negeri sehingga mineral ikutan yg hadir ekonomis bisa diolah dan dimanfatkan secara domestik. selain itu nilai tambah juga dihasilkan dari penyerapan tenaga kerja akibat timbulnya industri smelter. berikut juga pelaksanaan CSR (corporate social responsibility… wha ini kayaknya masih jauhd deh).
kalo diolah di Indonesia artinya kita masih bisa mendapat royalti, pajak maupun land rent-ya sehingga pemerintah daerha dan pusat juga kebagian benefit.
yang jadi kendala saat ini adalah :
1. kebutuhan energi untuk pendirian smelter sangat besar dan harus disediakan supply yang menerus…
2. Indonesia sudah bisa mengadopsi teknologi peleburan hanya kendala dari finansial dan mesti bekerja sama dengan investor asing
3. Biaya sosial Indonesia sangat besar (investor idak bisa datang karena high cost)
4. Infrasturktur Indonesia belum lengkap (pelabuhan, jalan dan akses, kapal dan tongkang)
5. Jarak penghasil bahan baku dengan industri selter lumayan jauh (ontoh konsentrat tembaga dari Papua dan Nusa Tenggara dikirim ke gresik yang lumayan jauh)
kalo tetang menjual tanah air itu rasanya perlu ditelaah lebih dalma lagi. kalau kita memang mendapat manfaat dan benefit dari penjualan (karena itu legal) saya rasa itu tidka apa-apa asal sesuai dengan pasal 33 UUD 45.
yang menyedihkan adalah ketika bijih (ore) dijual oleh perusahaan tambang illegal (seperti di papua barat, bangka belitung, kalimantan dll) yang otomatis tidka memberikan royalti maupun manfaa ekonomi real bagi bangsa ini.. mungkin ini disebut dengan menjual tanah air…
salam
Mas Rendra…
Saya sependapat dengan komentar dari Radyan P.
Alangkah indahnya kita memeliki pabrik alumina sendiri, tapi mbo ya ingat bangsa kita ini harus diberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya, jadi g ada misinformasi.
Setahu saya, pembuatan pabrik alumina bukan cuma bikin pabrik duanQ, dengan hitung2an sederhana (seperti diatas ?? ). Seperti mas Radyan bilang, kita memerlukan infrastructure yang memadai, dan terutama, supply energi yang saaaangat besaar..dan proyek ini perlu biaya yang sangat tinggi…nah ini perlu pengkajian yg bner2 matang..
so, please, klo kita lihat masalah itu secara keseluruhan dan berikanlah masukan2 buat pembuat kebijakan diatas sana, jgn hanya secuil-cuil bikin rakyat resah…
peace and salam
Sudah lama saya tidak menengok blog ini
Pak Radyan dan Pak Hadi,
esensi dari tulisan saya adalah bahwa “lebih besarlah keuntungan kita seandainya kita bisa menjual produk yang memiliki nilai tambah yang lebih”.
Tapi saya ikut nimbrung lah. Mengenai kendala-kendala yg disampaikan, itu memang benar dan memang itulah realitanya. Tapi apakah sudah begitu saja, dan ya sudah, yang ada sekarang aja lah dijalankan? tentu tidak to? tergantung bagaimana kesungguhan pemerintah untuk mewujudkannya. Saya berpikir, bahwa masalah yang pertama dan utama yang dihadapi adalah masalah investasi.
Kalau masalah kebutuhan energi yang besar, ya kalo memang begitu proses produksinya, ya bagaimana lagi? ya memang harusnya demikian. Toh, di luar negeri produsen2 serupa jg masih bisa sangat untung meski dengan kebutuhan energi yang besar. Namun demikian tentu, harus dikaji lagi feasiblity-nya berdasar ketersediaan cadangan bahan bakunya.
Mengenai masalah menjual tanah air, saya gak tahu siapa yg pernah menulis menjual tanah air..
. Tapi perlu digarisbawahi, bahwa dengan dilegalkannya sebuah kegiatan eksploitasi, pengolahan dan penjualan oleh pemerintah bukan berarti tidak bisa dikatakan menjual negara. Karena keputusan pelegalan itu juga dilakukan oleh manusia yang tentu saja masih dimungkinkan memiliki kepentingan-kepentingan di sana. Yang legal belum tentu pro rakyat!!!
Mohon maaf buat siapa saja yang menilai informasi yang saya tuliskan ini masih secuil-secuil. Tapi sekali lagi esensi dari tulisan saya adalah bahwa “lebih besarlah keuntungan kita seandainya kita bisa menjual produk yang memiliki nilai tambah yang lebih”. Saya juga tidak akan menyalahkan dan mengecilkan sang pengirim email yang membuat kalkulasi perhitungannya, yang mungkin terlihat sederhana. Tapi biasanya orang yang bisa menyederhanakan kalkulasi investasi itu bisa jadi sudah sangat berpengalaman. Jadi tidak lagi menuliskannya secara detail.
Salam..
saya sempat melakukan suatus tudi tentang besarnya energi yang digunakan untuk peleburan logam. hm…. angka yang luar biasa fantastik. karena ternyata energi yang dibutuhkan bisa mencapai ratusan MW… dan in disupply dari bahan bakar fossil ternyata.
contohnya saja utuk peleburah tembaga di kota G, ternyata kebuthan energi mereka per tahunnya mencapai lebih dari 45 Mwatt, itu baru satu industri mereka saja, karena industri ini terkait dengan industri sekitarnya. produk slag mereka dan limbah asam sulfat mash digunakan oleh industri sekitarnya.
kemudian untuk peleburan nikel di kota P, mereka perlu lebih besar lagi, sekitar 110 Mwatt. inipun masih harus ditambah untuk energi listrik perumahan dan perkantoran mereka.
Yang jelas kedua industri peleburan ini, memerlukan energi yang sangat besar dan dihasilkan dari pengunaan solar dan minyak bakar (karena dua jenis ini paling besar diguakan). satu diantaranya perneh menggunakan Gas, tetapi supply yang ringsek dan macet membuat mereka jadi beralih ke BBM.
thus…energi iniperlunya konsatnt dan harus ada setiap saat. bayangkan bagaimana tanur bekerja kalo tiba2 terjadi shutdown akibat eenrgi dari minyaknya habis atau tersendat.
Jujur saja, kebutuhan energi industri sebesar itu tidak mungkin disupply dari PLN, bisa2 masyarakat ga kebagian supply listrik nantinya.
NALCO adalah salah satu raksasa alumunium dari India yang sekarang sedang berusaha membangun peleburan bauksit di sumatera selatan. padahal bahan baku mereka (ore bauksit) di datangkan dari Jaypur, India.
kenapa mereka getol berinisiatif membangun peleburan di Indonesia?? karena supply energi di sini lebih mudah dan tersedia menerus. lihat saja, disana banyak perusahaan minyak (Musi BAnyuasin, Prabumulih dll) dan juga Batubara (PT. Bati Bara Bukit Asam).
jadi mereka lebih memilih faktor kebutuhan energi sebagai variabel utama daripada jarak bahan baku.
Kalau saja manajemen energi untuk industri di Indonesia sudah sangat rapi dan bagus, pastinya kta bisa membangun peleburan didalam neegeri, jadi nilai tambah nya bisa kita lbeih rasakan.
Dan jangan lupa cadangan minyak kita semakin sedikit, sementara opsi lain (batubara, gas, bahan bakar nabati, biogas dan lainnya) masih belum dilakukan secara komersial. Baubara memang banyak digunakan Industri listrik…
jadi saya tetap mendukung opsi pemanfaatan mineral di dalam negeri denga membangun peleburan. tapi tetap mesti dilakukan dengan cantik, dan didukung oleh regulasi yang dai pemeirntah…
Setuju. “…mendukung opsi pemanfaatan mineral di dalam negeri dengan membangun peleburan. tapi tetap mesti dilakukan dengan cantik, dan didukung oleh regulasi yang dari pemeirntah..”
Kepada Yth Bapak2,
Terlepas dari segala kontroversi tentang pertambangan. Mungkin dari Bapak2 yang ada disini bisa membantu saya untuk mensupply Bauxite dari Kalimantan barat? Kalau ada, saya sangat berminat membeli untuk quantity 50.000MT monthly.
Penawarannya saya tunggu di : indonesia.mineral@yahoo.com
Salam
Andrew