Seiring dengan semakin bertambahnya usia, semakin luasnya pergaulan kita, dan semakin lama kita mengarungi hidup ini, akan semakin banyak pula informasi/pengetahuan yang kita dapat. Pada umumnya seperti itu. Dan memang seharusnya demikian. Diantaranya pasti ada hal-hal yang sama sekali baru buat kita. Ada yang berupa scientific science, wawasan politik, agama, keyakinan, gaya hidup, sifat dan perilaku manusia, dan banyak hal lainnya.
Dari sekian banyak hal tersebut, ada yang berbicara tentang masalah benar dan salah, baik dan buruk, kesesuaian dan penyimpangan, yang mana sering kali tidak jelas acuannya, samar, tidak ada pedomannya. Setidaknya akan ada perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya. Bahkan, tidak jarang terjadi perbedaan meskipun telah berpedoman pada suatu acuan yang sama. Hal tersebut terjadi tidak lain karena adanya perbedaan dalam menafsirkannya.
Orang yang berpikir bijak memiliki penerimaan yang baik terhadap suatu yang baru datang kepadanya. Menerima bukan berarti bila setuju, sepaham, dan mengikutinya. Adalah termasuk penerimaan yang baik, meskipun dia tidak setuju, tidak sepaham, bahkan dia menyalahkan hal baru tersebut, akan tetapi dia tetap menghormati dalam arti benar-benar menghormatinya.
Namun sering kali orang yang berpendidikan pun terjebak dalam euforia “akulah yang benar” ketika dia melakukan penerimaan terhadap hal baru. Dia sepakat dengannya. Hal baru itu menarik hatinya, sangat memikat dan ia menerimanya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penerimaannya tersebut. Yang salah adalah ketika dia telah memasukkan emosi (atau sesuatu lainnya, yang saya juga tidak dapat menjelaskannya) dalam penerimaannya tadi. Sehingga setelah berdiskusi dan berargumentasi dengan orang lain yang tidak sepaham dengannya dan tidak dapat diambil kesepakatan diantara keduanya, dia menjadi sangat sensitif dan cenderung tidak senang (kalau tidak dapat dikatakan antipati) terhadap orang lain yang tidak setuju dengan apa yang diyakininya tersebut.
Akan saya katakan: “Silahkan engkau meyakini dan mengikuti apa yang kauyakini itu. Itu adalah pilihanmu. Tapi saya tetap katakan bahwa itu salah, saya tidak setuju dengan hal itu, dan saya doakan semoga engkau mendapat petunjuk (sesuai dengan apa yang saya yakini).” “Dan bila menurutmu saya salah, doakan saja agar saya mendapat petunjuk (sesuai apa yang engkau yakini).” “I’ll not force you, I’ll always aprreciate you and inversely, I hope you so to me”.
Setiap orang bebas menentukan pilihannya. Namun demikian, setiap orang memiliki konsekuensi terhadap pilihannya tersebut.
— Kapan bangsa ini bisa menghargai perbedaan bila yang mengusungnya pun tidak dapat menghargainya —
baru mau ngomong kalimat “Perbedaan adalah rahmat,,” tapi langsung dicaci caci,,
“itu hadist dha’if!!”
so much for a diversity,,
he he he, yaa.. begitulah mbak
[...] Yang bagus tentang perbedaan,, [...]