Saya sering menerima email dan informasi dari beberapa blog tentang alternatif “slip biru” saat kita ditilang polisi, seperti yang dimuat di sini . Kali ini saya menerima email agak berbeda. Isinya tentang salah satu usaha (yang smooth) agar polisi (yang sengaja mencari-cari kesalahan) tidak jadi menilang kita (tentunya, memang kita tidak bersalah). Berikut ini adalah isi email tersebut (saya peroleh dari salah satu mailing list yang saya ikuti).
—– Original Message —–
From: **** *******
Sent: Tuesday, June 12, 2007 9:36 AM
Subject: [**-***] NaQia : Bebas tilang tanpa slip biru dan merah
Pacing dan Leading Di Saat Tilang
Hari Jumat, selepas acara training “Action Learning Coach” di Hotel Sahid, beberapa waktu lalu, saya ditahan polisi saat dianggap memotong jalur terlarang. Saya bersama Carsten, sahabat kita dari Malaysia, di dalam mobil. Malam itu, entah kenapa saya tidak ingin membayar apapun, karena tahu saya tidak melakukan kesalahan apapun. Apalagi saya lewat jalur itu karena sahabat saya Pak Yunus juga lewat situ dan tidak ditahan oleh mereka. Dan saya lewat situ karena memang mengikuti mobil Pak Yunus. Mobil saya dihampiri seorang polisi setelah ia menghadang persis di depan dan menyuruh saya meminggirkan mobil.
Ini beberapa catatan PACING dan LEADING saya saat berhadapan dengan sang polisi. Saya rangkumkan, saya persingkat dan tidak sama persis tapi berdasarkan peta ingatan saya yang terdekat. Percakapan sebenarnya sekitar 15 menit. Tidak bermaksud agar ditiru para sahabat karena konteks, waktu, tempat, situasi, personelnya, dan hasilnya bisa beda-beda. Walau tidak ada salahnya mencoba sekali-sekali
HN: “Ada apa, Pak?”
POL: “Bapak tidak boleh lewat sini, Pak. Bisa saya lihat surat-suratnya?”
HN: (Menyerahkan SIM dan STNK saya) “Saya ikuti teman saya dari belakang, Pak. Tadi dia lewat tidak Bapak tahan, saya pikir memang nggak apa-apa”
POL: “Saya tidak lihat mobilnya tadi. (Agak salah tingkah sambil memandang mobil Pak Yunus dari kejauhan). Tapi Bapak khan tahu setiap hari di sini itu tidak boleh lewat. Itu aturan sudah lama, Pak”
HN: “Wah, saya tidak pernah lewat sini, Pak. Kalau ada rambu, garis putih, dan sejenisnya, saya pasti tidak akan berani lewat, Pak. Bagaimana saya bisa tahu ada aturan begitu, Pak?” (PACING)
POL: “Lho, kalau semua orang mengaku begitu, semua boleh melanggar dong, Pak? Semua bisa bilang tidak tahu. Ini aturan sudah mulai dulu”
HN: (Menoleh ke belakang dan memperhatikan sekitar 6-7 mobil lainnya juga dihentikan di belakang saya) “Saya heran, Pak. Kalau tidak boleh lewat sini, kenapa semua mobil itu lewat, Pak? Padahal mereka sudah lihat Bapak menghentikan banyak mobil. Kalau aturan ini sudah lama, berarti banyak sekali yang nggak tahu, Pak. Khan lebih membantu kalau ada rambu atau tanda, betul, Pak?” (PACING)
POL: “Itu bukan urusan saya, Pak. Sekarang Bapak maunya gimana?” (Sambil berlagak hendak mencatat di bukunya – Tebakan generalisasi: tentu ’sinyal’ minta keputusan uang damai)
HN: “Saya minta kebijakan Bapak untuk tidak menilang saya” (bukan LEADING, karena saya tahu belum saatnya dan hanya perlu menjawab pertanyaannya saja)
POL: “Wah, itu mana bisa, Pak? Apa kata teman-teman saya nantinya? Semua mobil yang lain ditilang, kenapa Bapak istimewa?”
HN: “Pak, saya dengan mudah tergoda untuk mencabut uang saya dan berikan ke Bapak. Tapi saya tahu, Bapak seperti saya, tahu tindakan seperti ini nggak bener, Pak. Betul khan, Pak? (PACING) Saya warga negara yang baik seperti Bapak. Saya sadar hukum dan saya yakin Bapak* (saya mendongak melihat name tag-nya dia)”
POL: “AJ (menjawab sambil menunjukkan tag nya)!”
HN: “Ya, Bapak AJ juga bijak hukum (PACING * line ke depan sudah masuk LEADING). Jika tidak ada rambu maupun garis putih yang menandakan saya untuk tidak lewat sini, tentu Bapak paham kenapa saya dan mobil lainnya lewat sini. Ada perbedaan saya melanggar hukum dengan saya lewat jalan yang tidak ada rambu dilarang lewat. Betul khan, Pak? Lagipula, saya yakin setelah Bapak memberi kebijakan ini, malah Bapak bisa mengajak teman-teman Bapak untuk tidak menunggu di bagian jalan ini dan menilang, tapi mencegah mobil-mobil dari seberang untuk lewat sini, Pak. Supaya tidak berkesan sengaja menjebak”
POL: “Jadi Bapak minta saya hanya beri peringatan saja?”
HN: “Saya tidak katakan hal-hal ini kalau saya tahu Bapak seperti polisi pada umumnya yang punya citra buruk di masyarakat, Pak. Bapak santun dan mau diajak berbicara oleh warganya, seperti semboyan Bapak “melindungi dan melayani masyarakat’. Saya yakin Bapak AJ berbeda dari mereka, dan saya tidak akan lupakan kejadian ini untuk pelajaran saya bahwa tidak semua polisi seperti yang diberitakan di mana-mana (sudah LEADING tajam)”
POL: (sudah terlihat ragu dan hendak mengembalikan SIM dan STNK saya, walau masih agak ditahan)
HN: “Saya akan sangat berterima kasih kepada Pak AJ, terutama karena telah mengajarkan saya bahwa citra polisi tidak semua buruk, Pak. Ini sebuah pelajaran berharga”
POL: “Oke, kalau begitu. Kali ini saya hanya beri peringatan. Harap Bapak berhati-hati dan tidak lewat sini lagi, Pak” (menyodorkan SIM dan STNK saya)
HN: “Saya hargai sekali tindakan Bapak AJ dan akan perhatikan nasihat Bapak!” (mengambil SIM dan STNK saya dan melaju pergi)
Dalam perjalanan, Carsten tersenyum dan mengatakan. “Untuk pertama kalinya saya alami di Asia Tengara, ditilang dan hanya diberikan peringatan!” Saya hanya ucapkan “Entahlah, malam ini saya memang rasanya hanya ingin merasakan keajaiban PACING-LEADING. Jadi saya tancap saja!”
Have a positive day!
Hingdranata Nikolay, MNLP, CHt
Ck Ck Ck… lumayan bagus referensinya :p Kekekeke…. Tar dipraktekin ah. Tapi tetep harus siap duit kayaknya. Sapa tau pak pol juga nge blog, tar ketauan deh taktiknya :p
Pacing? Leading? penjelasan dongs… =D….
Goy,
Gak tahu juga eh Goy, ente kira-kira ajah sendiri yak.. Kira2 apa yak? kalo udah tahu kasih tahu aku
hebat euy. tapi masih gak berani nyoba ah. apalagi klo di daerah. kayak gw nih di makassar. klo kita udah ketahuan pendatang, bisa habis dilumat deh.