
Topik tersebut merupakan judul dari sebuah email yang dikirimkan oleh Bapak Djoko Suharto, salah satu Dosen Teknik Mesin ITB ke beberapa mailing list, yang kemudian oleh mas Basuki Suhardiman di-forward-kan ke milis ITB. Ini adalah topik yang menarik perhatian saya dan oleh karenanya saya tampilkan juga di sini. Sebenarnya isi email Pak Djoko Suharto adalah gagasan/pemikiran dari salah satu mahasiswanya dulu (sepertinya saya tahu siapa orangnya
). Tulisan yang membahas tentang eksistensi kampus berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi (dalam hal ini adalah internet), gugatan terhadap eksistensi kampus seiring dengan munculnya jendela dunia (meminjam istilahnya Gojo) yang bernama internet.
Pak Djoko Suharto said :
Bapak bapak dan rekan rekan semua,
Pendapat dari salah satu bekas mahasiswa saya, agak kontroversial tetapi
perlu direnungkan dan dicermati. Ada hal hal yg agak mirip dan pernah
dipikirkan oleh pak Iskandar Alisyahbana Ketua MWA 2002-2005.
Salam
DS
Gagasan dari eks-mahasiswanya :
Pak Djoko yth.
Karena lagi hangat2nya pemilu IA-ITB, beberapa minggu terakhir ini saya
berpikir mengenai konsep universitas itu sendiri. Apakah universitas
secara fisik masih relevan sekarang? Apakah perlu dikembangkan atau
ditutup sekalian. Bagian mana dari universitas yang perlu dikembangkan
dan bagian mana yang perlu ditutup?
Waktu saya masih SD sekitar tahun 1990 saya masih orang ramai
membicarakan konsep distant learning lewat media TV. Bagaimana caranya
menyelenggarakan sekolah dan kuliah lewat TV. Makanya pada masa itu
muncul TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Tapi rupanya para konseptor
itu lupa bahwa proses belajar sangat interaktif dan butuh komunitas dan
tidak terlepas dari aspek sosial non-akademis. Orang tertarik berangkat
ke sekolah bukan hanya untuk belajar tapi juga untuk bermain bersama
teman atau bertemu pacar. Jadi teknologi informasi di tahun 1990-an
tidak diiringi teknologi interaksi. Maka visi tahun 1990-an itu pun mati
dan TPI pun beralih menjadi televisi dangdut.
Sekolah dan universitas memberikan 3 hal penting yaitu: informasi,
interaksi dalam proses belajar, dan standardisasi atau sertifikasi. Di
abad 21 ini 2 faktor pertama sudah obsolete. Internet memberikan
informasi yang jauh lebih lengkap, murah, dan cepat daripada
universitas. Saat ini masing2 individu bisa memiliki perpustakaan
sekualitas sebuah jurusan dalam hardisk komputernya, hal yang sangat
mahal 10 atau 20 tahun yang lalu. Untuk masalah interaksi kita sudah
punya banyak ruang2 kuliah virtual dalam bentuk mailing list. Di ruang
kuliah pertanyaan kita akan dijawab oleh seorang dosen yang umumnya
menguasai aspek teori dari materi yang ditanyakan. Di mailing list
pertanyaan yang sama bisa direspon oleh lebih dari 5 pakar yang punya
pemahaman teori dan pengalaman langsung mengenai topik tersebut. Tinggal
satu kekurangan dari ruang kuliah abad 21 ini yaitu tidak memberikan
standardisasi dan sertifikasi pengetahuan. Tapi apakah semua orang butuh
sertifikasi ini?
Saya pernah mendesign sebuah floating dock ukuran 30 m x 10 m yang
difabrikasi di Cilegon dan ditarik dengan kapal dari Cilegon ke Tangguh,
Papua di proyek Tangguh LNG. Saat itu saya belajar sendiri mengenai
naval engineering untuk mendesign floating structure dan mencari
informasi dari Google. Tentu saja semuanya berdasarkan ilmu dasar yang
didapat dari teknik mesin. Tapi sejak saat itu saya yakin bahwa
pendidikan formal semakin lama semakin tidak relevan.
Kembali ke ITB yang saat ini sedang dalam masa turbulensi menentukan
masa depannya, ITB harus sangat berhati2 agar tidak menjadi sebuah
institusi yang obsolete. Saya kira universitas di masa depan harus
merampingkan organisasinya dan hanya fokus di bidang yang tidak akan
obsolete seperti research. Apakah kita masih perlu kuliah dengan kredit
sebanyak sekarang? Bukankah ada kuliah yang bisa disubstitusikan ke
media internet dan mailing list. Di situs video Youtube.com sudah
beredar beberapa video kuliah dari University of California, Berkeley.
Tinggal dilengkapi dengan forum diskusi di internet maka sudah hilanglah
beban beberapa kredit. Untuk apa menghambur2kan waktu, subsidi dan
sumber daya manusia untuk membiayai proses belajar yang sudah obsolete?
Dana yang ada lebih baik digunakan untuk melengkapi peralatan praktikum
dan research yang saat ini masih tidak bisa disubstitusi.
Semoga pemikiran ini bermanfaat dan mohon dikritik kalau ada yang
kurang. Jangan sampai seorang mahasiswa yang baru lulus sebuah mata
kuliah di ITB dengan nilai A+ dikalahkan seorang lain yang tidak kuliah
tapi membaca dan berdiskusi lebih banyak di internet dan mailing list
untuk topik yang sama hehehe. Saya yakin hal ini pasti akan terjadi dan
hanya masalah waktu saja.
Salam,
IS… ini pasti IS …
kalau aku menyimpulkan, maka bang IS ini menyatakan bahwa sudah waktunya bangku kuliah diganti dengan distance learning saja… gak semua, tapi bertahap… harapannya suatu saat nanti semua udah remote.
aku tidak bisa 100% setuju dengan bang IS… lebih karena pandangan realistic-pessimist… bantahan logis adalah masalah komunikasi yang tidak efektif. Komunikasi tulisan jelas tidak se-efektif komunikasi verbal. Dan komunikasi verbal-maya tentu saja tidak se-efektif komunikasi verbal-nyata…
aku pikir ini hanya bisa jadi suplemen saja
.. atau dengan tingkat kecerdasan dari seseorang, bisa jadi justru pendidikan formal yang menjadi suplemen… tapi aku ragu bahwa yang satu bisa 100% menggantikan yang lain. Keduanya tetap dibutuhkan.
Gojo,
Si Bung IS kita ini memang mantapp
SETUJU!!! Itu pasti IS!!!
Saya juga berpendapat demikian. Dan saya pikir Bung IS (kalo memang bener dia) pun juga berpendapat demikian. Dia katakan: “Bagian mana dari universitas yang perlu dikembangkan
dan bagian mana yang perlu ditutup?”.
Internet menyediakan banyak hal, terkait ilmu pengetahuan, yang dapat kita baca dan pelajari kapan pun kita mau. Namun demikian, nilai kebenaran dari content ilmu tersebut masih perlu dipertanyakan, keabsahannya secara ilmiah. Oleh karenanya, masih diperlukan diskusi-diskusi untuk membahasnya lebih lanjut dengan guru (katakanlah dosen) yang lebih mendalaminya.
Belajar dari internet juga berpotensi menjerumuskan orang-orang yang tingkat pemahamannya sedang-sedang saja (mungkin saya termasuk di dalamnya?), sehingga resiko salah mempersepsikan maksud/content masih sangat besar.
Bagaimanapun, pengembangan teknologi informasi ini telah (dan saya yakin akan terus) memberikan kontribusi yang besar dalam mencerdaskan manusia di bumi ini.
Menurut saya, *halah* mencoba mengertikan ide ini, universitas itu tetap dibutuhakn sekali bagi mereka-mereka yang tidak suka internet, gagap teknologi dan masih butuh eksistensi gelar…. tapi saya kira, bagi yang tidak membutuhkan itu, saya kira pertimbangan kuliah di “Univ Gugel” dan bertele conference bersama teman via Yuotube dan YM, sangat bisa dipertimbangkan.
Saya contohnya, *halah* dari pesantren yang tak tau apa2 soal dunia IT, saya banayk kenal dengan dunia ini. Dan gara2 sering menghadiri mata kuliah di “uni gugel”, saya pun bekerja di bidang yang jauh dari disiplin pesantren.
salam
Betul sekali Pak Kurtubi. Kalau masih ada yang mau gelar kita kasih aja gelar S.Go (Sarjana Google) atau Do.Gol (Doktor Google) hehehe kidding. Universitas Google lebih relevan dengan esensi dari belajar itu yaitu continuous learning alias terus belajar sepanjang hidup. Tidak berhenti hanya karena selesai ujian atau selesai skripsi atau apapun namanya. Gelar dan ijazah dihapus juga tidak apa apa. Untuk engineer misalnya, cukup ajak ngobrol 5-10 menit, kita bisa mengira2 apakah orang yang kita ajak ngobrol punya kompetensi dan kualifikasi dalam bidang engineering atau cuma pintar ngecap saja.
Mmmh, lho..?
Bukannya wajar yah kalo ada “seorang mahasiswa yang baru lulus sebuah mata
kuliah dengan nilai A+ dikalahkan seorang lain yang tidak kuliah
tapi membaca dan berdiskusi lebih banyak di internet dan mailing list
untuk topik yang sama”..?
Kan ga ada manusia sempurna yg tahu segalanya..
Tapi perlu dijelaskan dalam hal apanya dulu..
Mungkin dari segi perkembangan info terbaru sang Netters lebih unggul dari si Mahasiswa, tapi dalam penerapan teori atau pengetahuan teori dasar si Mahasiswa lebih unggul, dan lain hal.
Cuman yah kalo sampai dalam segala hal sang Netters lebih unggul dari si Mahasiswa..
Berarti mungkin “nilai” dan “kurikulum” universitas-nya yang patut dipertanyakan..:p.
Btw, sejauh ini, aku sih belum kebayang bakal bagaimana nasibku kalau “kuliah” dihapuskan..
Pastinya aku jadi ga terarah “antara mana yang penting aku pelajari dan mana yg enggak”.. =)
kalau memang benar seperti itu, coba saudara jadi dokter lewat google dan kasi waktu buat saudara sendiri selama waktu yang sama dengan kuliah formal kedokteran. Atau kalau mau yang lebih gampang coba jadi insinyur elektro bidang telekomunikasi dalam waktu 4 tahun lewat google =)
atau cuma bisa ngecap saja ???
Arghhh…. no comment ah. Saya mo kuliah dulu nih… ciao…
butuh kajian lebih mendalam,ada hal baru yang perlu di cermati di dunia civitas akademia…saya setuju utk beberapa point,tp tetap perlu kajian yg lebih mendalam..salam
Wah, perkiraan saya akhirnya datang juga!!!
memang benar bberapa materi perkuliahan dapat diunduh di internet. mulai A-Z bisa kita peroleh. tetapi saya rasa tetap harus membutuhkan balance pada keduanya. Sebagai pendidikan informal “internet” memang dibutuhkan untuk orang orang yang sifatnya otodidak. dan saya tidak memungkiri kalo otodidakers itu terkadang lebih leluasa dari pada para mahasiswa. pasalnya dalam mempelajari matakuliah dikampus, mahasiswa cenderung hanya memilih beberapa bab saja. berbeda dengan otodidakers, mereka bisa saja melahap semua apa yang ada dihandbook.
Tetapi lembaga resmi seperti kampus itu masih dibutuhkan posisinya sebagai pemberi “SIM” untuk bidang tertentu. dan kampus masih dibutuhkan untuk praktikal. klo sebatas teoritis ya apa gunanya!!!