Feeds:
Posts
Comments

Alergikah?

 

Terjadinya 6 hari yang lalu, tepatnya pada malam sabtu satu minggu yang lalu. Dan ini baru pertma kalinya saya alami. Setelah makan malam, berangkatlah saya menuju tempat rapat di bilangan Tebet Timur Dalam Raya. Sesampainya di Tebet, beberapa bagian di tubuh ini terasa gatal-gatal. Tak lama kemudian, tampak benjolan yang mirip kondisi bila kulit gigi digigit nyamuk. Bedanya benjolan-benjolan ini diameternya lebih besar, sekitar 1,5 cm. Tepatnya ada 3 benjolan, di pergelangan tangan kanan, di leher sebelah kanan, dan di pinggangng sebelah kiri.

Read The Rest of This Entry

Pengalaman di Proyek

Baru saya ketahui sekarang, ternyata kesulitan dalam proses pengendalian di proyek (dalam hal ini proyek pembangunan) itu bukan pada masalah-masalah engineering-nya, melainkan lebih kepada masalah sosial. Mengenai review design, teknik piling yang sesuai, pengecoran raft pondasi, erection anchor bolt, pump, piping, boiler, turbin, generator-condenser, Electrostatik Presipitator, Chimney, balancing & alignment, COD, Commisioning, itu semua bukanlah kesulitan yang utama dalam proyek. Sekali lagi, kesulitan utama proyek-proyek pembangunan di Indonesia ternyata lebih kepada masalah sosial :( .

Read The Rest of This Entry

Topik tersebut merupakan judul dari sebuah email yang dikirimkan oleh Bapak Djoko Suharto, salah satu Dosen Teknik Mesin ITB ke beberapa mailing list, yang kemudian oleh mas Basuki Suhardiman di-forward-kan ke milis ITB. Ini adalah topik yang menarik perhatian saya dan oleh karenanya saya tampilkan juga di sini. Sebenarnya isi email Pak Djoko Suharto adalah gagasan/pemikiran dari salah satu mahasiswanya dulu (sepertinya saya tahu siapa orangnya :D ). Tulisan yang membahas tentang eksistensi kampus berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi (dalam hal ini adalah internet), gugatan terhadap eksistensi kampus seiring dengan munculnya jendela dunia (meminjam istilahnya Gojo) yang bernama internet.

Pak Djoko Suharto said :

Read The Rest of This Entry

NARUTO KUN…

Pernahkah mendengar kata “NARUTO?”. ”NARUTO?”, makanan apa pula itu?  Saya kira sebagian besar anak kecil telah familiar dengan kata itu. Ya, karena tidak lain dan tidak bukan itu adalah judul sebuah film kartun. Film kartun yang saat ini merupakan salah satu film kartun favorit anak-anak kecil yang mana secara berseri ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.

Dari pengamatan saya, film ini bukan saja digemari oleh anak-anak kecil, tapi juga oleh orang-orang dewasa (atau katakanlah orang yang usianya sudah tidak kecil lagi – karena belum tentu orang yang usianya telah dewasa itu dewasa pula sikapnya). Saya sendiri adalah salah satu orang yang mengikuti jalan serial kartun yang satu ini. Satu-satunya film kartun yang masih saya tonton saat ini. Meski demikian, saya tidak menontonnya dari stasiun TV, melainkan dari hasil download-an di internet (www.narutocentral.com), dan ini free alias gratis.

Read The Rest of This Entry

Sulitnya Ber-internetan

Belakangan ini saya lebih banyak beraktifitas di lapangan, itu pun di pelosok, termasuk di daerah terpencil. Jadi porsinya lebih banyak berada di lapangan daripada duduk di belakang meja. Dari kesemuanya itu, satu hal yang yang membuat saya agak merana ( :p ) adalah masih sulitnya didapatkan fasilitas internet di sana. Di daerah-daerah sekitarnya juga tidak saya temukan (atau mungkin belum) penyedia jasa layanan internet alias warnet.

Sebenarnya ada alternatif lainnya untuk dapat tersambung internet, yaitu menggunakan PC/Notebook dengan HP sebagai modem. Read The Rest of This Entry

 

Akhirnya posting-an saya yang di-publish pada tanggal 12 Oktober 2007 saya putuskan untuk di-suspend, di-hide. Salah satu pertimbangannya adalah kekhawatiran bahwa tulisan tersebut mengesankan sebuah kesombongan. Sebenarnya juga tidak ada masalah, karena memang tidak ada maksud untuk itu. Tulisan itu lebih pada curahan emosi dan amarah diri ini menghadapi suatu kejadian yang luar biasa, yang terjadi di luar dugaan saya. Dan kejadian itu telah membebani pikiran saya selama berhari-hari, bahkan membuat saya cukup stress. Oleh karenanya, saya putuskan posting-an tersebut saya suspend.

SELAMAT IDUL FITRI 1428 H

idul fitri

Ada dua pendapat tentang metode menentukan hari Idul Fitri, 1 Syawal : rukyat dan hisab. Bila rukyat berdasarkan nash yang menyebutkan :”Berpuasalah dengan melihat bulan dan berbukalah dengan melihat bulan” serta ”Bila hilal tak nampak karena tertutup mendung/awan maka genapkanlah puasamu (menjadi 30 hari)”. Sedangkan hisab berdasarkan nash: ”Jika terhalang, maka ukurlah atau perkirakanlah”. Menyitir tulisan Ma’rufin Sudibyo (Jogja Astro Club; Rukyatul Hilal Indonesia; Badan Hisab dan Rukyat Kab. Kebumen), sebenarnya keduanya adalah dua sisi dari sekeping mata uang. Artinya, hubungan antara hisab dan rukyat sejatinya adalah timbal balik sehingga tidak perlu ditempatkan berlawanan, apalagi dibandingkan mana yang paling unggul. Sebuah hipotesis (yang dihasilkan oleh hisab) akan terbukti jika didukung oleh hasil pengamatan (rukyat) dan sebaliknya, hasil pengamatan pun harus memenuhi syarat-syarat yang dikehendaki oleh hipotesisnya agar hasilnya dapat dikatakan valid dan reliabel. Yang menjadikan perbedaan antara keduanya terletak pada ”TIADANYA DEFINISI TUNGGAL TENTANG HILAL”.

Saya tidak sedang ingin menulis tentang polemik penentuan mana yang lebih benar. Read The Rest of This Entry

Oleh Abdul Rozak

sumber : eramuslim.com

Nak, menangislah,

Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak juga beranjak pada juz empat.jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika itu merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, “alhamdulillah tarawihku belum bolong. ” dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)

Menangislah,

Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi…, tapi sampai puasa hari ke tiga belas masih juga menggunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah… Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.

Menangislah, lebih keras…

Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa hari. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun kedewasaan.. .

Menangislah,

Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja? Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya bertobat sambil berucap ‘kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi’…

Menangislah. ..

Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Sekarang sudah sepuluh hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.

Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali…

« Newer Posts - Older Posts »