Feeds:
Posts
Comments

Posting Lagi

Setelah beberapa lama tidak membuka blog, akhirnya saya berkesempatan lagi untuk menulis lagi di blog ini. Ternyata sudah lama juga. Menapaki hari-hari yang sarat dengan pengalaman-pengalaman dan hal-hal yang baru, memberikan sesuatu yang dapat menyegarkan diri ini setelah sekian lama terkungkung dalam sebuah sangkar emas. Yah… sebuah sangkar emas, yang meskipun emas, tapi sangkar tetaplah sangkar.

It’s time to wide spread my knowledge, wide spread my skill, extending my point of view in all over field, technical, social, management, lobbying, and of course politics.

Here I come, back to my original world.

You know that AiKenDuDhet !!!

Setelah sekian lama gak pernah lagi menumpangi bis, eh sekalinya naik lagi saya mengalami kejadian tidak menyenangkan. Sore ini, seusai bermain futsal di bilangan Kelapa Gading saya bergegas pulang dengan menaiki bis kota. Naik dari depan rusun Pulomas, dan saya putuskan untuk berdiri saja, toh sekitar 5 menit kemudian saya juga turun. Persis di depan saya ada seorang wanita karyawan kantoran yang juga berdiri, meski saat itu masih ada beberapa tempat duduk yang kosong. Bus kembali berjalan.

Tepat di depan kampus ASMI, bus kembali berhenti. Kali ini masuk 7 atau mungkin 8 orang laki-laki. Mereka juga berdiri. (Saat mereka masuk, saya sudah curiga bahwa mereka adalah gerombolan pencopet). Di dalam bis, salah seorang penumpang yang baru masuk ini tampak berbisik-bisik kepada seorang lainnya. Dan benar saja, sejurus kemudian tepat di tempat pemberhentian saya, di saat bis mengerem, mereka berdesak-desakan mendorong-dorong wanita yang tadi persis berada di depan saya. Kurang ajar, kentara banget aksinya, jelas-jelas bisnya tidak mengerem mendadak tapi mereka memepet penumpang wanita tadi ke pojokan dekat pintu, seperti seolah-olah bis direm mendadak. Dan kemudian mengambil paksa (bukan lagi mencopet namanya) dompet yang ada di tas si wanita tadi sembari tetap memepet penumpang wanita tadi. Sontak wanita tersebut berteriak-teriak sembari menunjuk-nunjuk si pengambil dompet. Yang ditunjuk marah-marah dan memaki-maki wanita tadi.
Read The Rest of This Entry

Suara suporter Indonesia membuat saya merinding saat itu. Ada nuansa yang berbeda. Meski kalah saya tetap puas. Ada sesuatu yang sulit saya deskripsikan di sana. Entahlah, meski 5 menit sudah peluit tanda pertandingan usai telah ditiup wasit, 90 ribu-an penonton tetap tak beranjak dari tempatnya. Mereka berdiri dan memberikan standing applaus, sembari meneriakkan Indonesia!!! Indonesia!!!

Semoga event kali ini dapat menjadi titik tolak perjalanan sepak bola Indonesia. Tapi bagaimanapun juga, menurut penilaian saya, timnas Indonesia masih kalah kelas dari 3 tim lainnya di Grup D Piala Asia 2007. Kita masih kalah dalam hal stamina fisik juga kecermatan mengumpan bola. Sedangkan untuk skill individual dan daya juang, timnas kita tidak kalah dengan tim lainnya. Ya, semoga event kali ini menjadi titik tolak persebakbolaan di Indonesia untuk memperbaiki kualitasnya.

Dan bagaimanapun juga, puluhan ribu suporter Indonesia telah menunjukkan dukungan yang luar biasa saat itu.

Viva Sepak Bola Indonesia.

Yo Ayo…,, Ayo Indonesia…., Kuingin..,, Kita harus menang…!!!!

Berikut ini beberapa hasil jepretan lainnya saat di dalam stadion.. :

Read The Rest of This Entry

Gimana Ya Ngomongnya?

Saya bingung harus dari mana memulainya. Saya bingung tentang apa yang harus saya katakan. Namun demikian, saya merasa harus segera menyampaikannya. Sepertinya ini adalah saat yang tepat, momentum yang pas untuk menyampaikannya. Mumpung ada restrukturisasi dan beberapa mutasi.

“Pak, saya akan mengundurkan diri,,”

Ah, tidak, tidak. Jangan demikian.

“Setelah sekian lama kita arungi lautan masalah dengan penuh suka maupun duka, maka sekarang saya ingin…”.

Ah, tidak, tidak. Jangan demikian.

“To the point saja Pak, saya resign.”

Ah, tidak, tidak. Jangan demikian.

“Sebenarnya saya ingin untuk terus berkarya bersama Bapak-bapak, tapi apalah daya…, ..”

Ah, tidak, tidak. Jangan demikian.

Setelah sebelumnya melihat pengumuman akan diadakannya acara ruqyah massal di masjid komplek tempat tinggal saya, kemarin pagi saya datang menghadiri acara tersebut. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 tersebut dihadiri oleh tidak kurang dari 200 orang warga komplek tempat tinggal saya. Apa itu ruqyah? Ruqyah adalah bacaan-bacaan perlindungan. Bacaan-bacaan yang berasal hanya dari Al Qur’an dan doa-doa yang dicontohkan nabi dan termuat dalam hadist. Seperti yang dijelaskan dalam acara tersebut fungsi ruqyah adalah sebagai pengobatan, mengusir jin, syaiton yang tinggal dalam tubuh kita. Menurut pak ustadz yang menyampaikan materi, indikasi orang yang terkena gangguan jin atau ada jin bersarang di tubuhnya adalah biasanya stamina orang tersebut loyo, tidak bersemangat, gampang marah, kepala sering pening, suka mengantuk, terlebih saat mendengar suara bacaan Al Quran atau mendengar adzan. Tidak mutlak seperti itu, karena ada yang memiliki indikasi-indikasi tersebut tapi tidak bereaksi juga ketika diruqyah. Tapi pada umumnya ‘pasien’-'pasien’ yang datang kepadanya dan memang terbukti terkena gangguan jin, memiliki indikasi seperti tadi.

Singkat kata, sekitar pukul 10.30 dimulailah ruqyah massal di dalam masjid. Pak Ustad memperdengarkan ayat-ayat melalui pengeras suara. Sekitar 10 menit berselang 2 orang hadirin wanita dan seorang hadirin laki-laki mengalami reaksi. Dua wanita menjerit-jerit (rupanya ada jin dalam tubuhnya, dan tidak tahan mendengar ayat-ayat Allah) dan reaksi yang laki-laki tadi muntah-muntah. Saya sendiri merasakan mual-mual, pening, dan jempol tangan kiri bergetar hebat. Tapi reaksi muncul hanya satu menit. Saya berpikir, “Wah, jangan-jangan ada juga jin di tubuh saya nih”,,, (ini mungkin akibat saya pernah menolak cintanya Jenifer Lopez, Britney Spears, dan artis-atis cantik lainnya itu. Jangan-jangan, mereka ini kemudian mengirim voodo nih ke saya, hwa ha ha, grobyak.. :D ).

Sekitar setengah jam berlalu akhirnya pak ustadz, menyudahi bacaan-bacaan ruqyahnya. Selanjutnya proses pengeluaran jin dari tubuh hadirin yang tadi ‘bereaksi’. Saya hanya sempat melihat proses pengeluaran yang hadirin laki-laki saja, yang kebetulan duduk persis di depan saya. Si mas tadi dalam kondisi tersadar, tapi terasa lemas. Kemudian Pak ustadz duduk di sebelahnya dan mulai membacakan bacaan ruqyah di telinga si mas. Si mas kembali muntah-muntah, kali ini lebih hebat. Sesaat kemudian tubuhnya bergetar, dan mengerang kesakitan, hwa…..,,, hwa..,,, hwa…. (rupanya si mas tadi sudah tidak sadar dan tubuhnya dikendalikan oleh jin yang bersarang di tubuh si mas tadi). Berikut ini cuplikan percakapan pak ustadz dengan jin tadi.

Read The Rest of This Entry

Fren; Lagi-Lagi TROUBLE

disconnected

Untuk yang kesekian kalinya saya merasa kecewa dengan layanan koneksi internet yang selama ini saya pakai untuk dapat tersambung ke internet, yaitu dengan menggunakan fren, mobile-8. Tadi siang, saya akan menghubungkan notebook ke internet (via fren). Tapi ternyata ada masalah dengan koneksinya. Sesaat (sekitar 2 detik) setelah terhubung, koneksi terputus kembali. Saya coba lagi, dan tetap saja masalah tersebut muncul kembali.

Akhirnya saya menelepon mobile-8 contact customer care untuk menanyakan masalah tersebut. Mereka menjelaskan bahwa tidak ada informasi bahwa ada masalah dengan jaringan mobile-8 di area Kelapa Gading. Dan suggest agar saya me-restart notebook dan HP saya. Saya pun mengikuti saran tersebut, meski akhirnya tetap saja masalah tadi tidak terselesaikan. Koneksi tetap putus setelah sempat terhubung sekitar 2 detik.

Read The Rest of This Entry

Sleepless

I don’t know why tonight I am sleepless. It seems so difficult to closed my eyes. Now, the clock show 3.13 AM, whereas this morning I have to go to Serang, Banten in order to do my duty for next 4 days. Aduh…

tanda seru

“Aduh, mengapa ya kok tadi saya bertingkah seperti itu?”. Tanpa sadar, saya sudah ikut dalam kegiatan “ngomongin orang:D . Tak sadar memang, tidak terasa. “Pak Rendra, katanya pas meeting kemarin si manajer dan GM-nya _ _ _ _ _ _ dimarahi oleh Pak TWP ya?”, tanya si A. “Gimana ceritanya tuh? Kayaknya seru juga” tambah si B. “Ya, kira-kira begitulah. Soalnya mereka sikapnya sok gitu. Selain itu, mereka mengeluarkan technical conclusion tanpa data. Jadi, kita, Pak TWP, Saya, Pak SA, Pak HC, Pak ME, dan Pak ES bikin skenario ‘bantai’ manajer dan GM tadi itu“, jawab Saya. “Iya Pak, memang sekali-kali harus digitukan mereka itu, biar ada pembelajaran. Selama ini memang begitu sih sikapnya”, imbuh si B. Dan bla, bla, bla seterusnya. Kira-kira demikianlah ceritanya, yang intinya “ngomongin orang“. Tapi, kok ya rasa-rasanya bukan hanya sekali ini saja saya berpartisipasi dalam kegiatan “ngerumpi-in orang” seperti ini :D . Dan kalo diingat-ingat, semua pesertanya adalah laki-laki (berusia antara 25 – 55 tahun), karena memang sebagian besar (mungkin 90%) manusia di lingkungan kerja saya adalah laki-laki. pada umumnya saat sedang berkumpul bersama, ngobrol-ngobrol santai, terjadilah aktifitas itu. Biasanya, saya bisa menahan diri untuk tidak ikut serta berbicara, hanya mendengarkan saja alias pasif. Terkadang saya putuskan untuk lebih baik pergi meninggalkan obrolan itu. Tapi terkadang pula saya terlibat aktif dalam aktifitas “ngrasani” ini.

Selama ini kegiatan “ngomongin orang” alias “ngrasani orang” alias “ngerumpi-in orang” identik dengan aktifitas yang dilakukan oleh kaum hawa, kaum wanita. Terlebih biasanya pada forum-forum khutbah, pengajian, dan yang sejenisnya yang membahas tentang hal tersebut juga sering diungkapkan “ke-identik-kan” aktifitas “ngrasani” ini dengan yang namanya wanita :p. Ah, ternyata tidak juga. Nyatanya, banyak juga kelompok laki-laki yang sering melakukan kegiatan tersebut. Seperti pengalaman yang pernah saya alami tadi.

Read The Rest of This Entry

Saya sering menerima email dan informasi dari beberapa blog tentang alternatif “slip biru” saat kita ditilang polisi, seperti yang dimuat di sini . Kali ini saya menerima email agak berbeda. Isinya tentang salah satu usaha (yang smooth) agar polisi (yang sengaja mencari-cari kesalahan) tidak jadi menilang kita (tentunya, memang kita tidak bersalah). Berikut ini adalah isi email tersebut (saya peroleh dari salah satu mailing list yang saya ikuti).

Read The Rest of This Entry

Simpati yang dalam saya sampaikan kepada tim pengusung dan pelaksana “metode insersi bola beton“. Metode tersebut merupakan salah satu usaha ‘pengatasan’ bencana semburan lumpur di Porong Sidoarjo yang lebih dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo. Simpati ini bukan karena tim pengusung metode tersebut satu almamater dengan saya. Tapi juga bukan karena salah satu anggota tim, Bapak Satria Bijaksana, adalah dosen yang pernah mengajar saya (mata kuliah Fisika Dasar di Tingkat 1). Saya sebagai warga asli Sidoarjo menyampaikan penghargaan, terima kasih, dan simpati yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak atas semua usaha yang telah dilakukan untuk pengatasan bencana lumpur lapindo ini, baik pengatasan teknis (masalah semburan lumpur) maupun pengatasan terhadap dampak sosial yang ditimbulkan (untuk yang satu ini masih jauh dari memuaskan). Termasuk diantaranya simpati kepada tim insersi bola beton (‘bolton‘) yang selama ini dalam pemberitaan media massa dan berbagai forum lainnya, cenderung disudutkan dan dicemooh usaha-usahanya. Dan sebaliknya, saya sangat tidak bersimpati kepada pihak-pihak yang hanya mencemooh dan memberikan kritik yang tidak konstruktif terhadap permasalahan ini.

Berikut ini merupakan cuplikan email (sumber: salah satu mailing list – saya belum ijin untuk menampilkannya di sini) dari Bapak Bagus Endar B. Nurhandoko, Ketua Tim Supervisi dan Monitoring Insersi HDCB. Email ini merupakan salah satu jawaban beliau kepada pihak yang yang mengkiritisi metode insersi bolton dan juga memuat sedikit uneg-uneg beliau.

———- Forwarded message ———-
Date: Mon, 4 Jun 2007 10:18:30 +0700
From: Bagus Endar B Nurhandoko <
********@bdg.centrin.net.id>
To:
******************
Subject: Re: Re:(*******) Gagal maning gagal maning ……was Apa kabar bola beton Sidoarjo?

********** Yang Budiman,

Mohon maaf Pak **********, mohon bapak berkenan baca artikel kami dahulu sebelum berkomentar terlalu jauh,
Ini yang mampu kita berikan kepada bangsa ini, keringat dan bahkan airmata,
meskipun sampai dengan hari ini kami masih memakai DANA PRIBADI (alias
hutang.. sudah kami ini Dosen yang bayarnya kecil suruh hutang lagi), down
payment untuk tahap pertama (YANG HARUSNYA DIBAYAR sebelum pekerjaan
dimulai)masih belum dibayarkan meski sudah hampir 5 bulan berlalu.

Tim kami telah bekerja sangat keras untuk hal ini, ini semua diniatkan untuk
menolong korban lumpur di Sidoarjo sana (baik yang belum dan yang terancam
akan terendam), sungguhpun belum satu sen-pun dibayar oleh PT. Lapindo
kepada kami. Namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk menyelesaikan misi
tahap pertama ini, insersi 398 untai (sungguhpun utang sana dan sini untuk
membuat misi ini berjalan selama ini). Dana memang bukan parameter utama
tetapi niat baik yang harus dikedepankan. D

Adalah tidak benar pemberitaan di media massa ttg kegargalan bola beton,
karena kami
TIDAK PERNAH DIKONFIRMASI DATA LAPANGANNYA dulu.

DATA PENGUKURAN LAPANGAN hasil pengukuran harian Tim insersi Bolton ITB
menunjukkan bahwa:
a. Debit berkurang setidaknya 30%, dari yang awalnya 150.000 m3 per hari
sebelum dilakukan insersi HDCB menjadi berkisar 80.000 – 100.000 m3 per
hari, setelah dan saat insersi HDCB dilakukan
b. Aktifitas kawah semburan lumpur mulai berkurang dari 30-35 semburan
per 5 menit (yg semburan > 3 meter), menjadi 20 semburan per 5 menit.
c. Laju kemunculan kemunculan Bubble yang sebelumnya secara eksponensial
menaik hingga puncaknya di bulan Februari mencapai 9 bubble baru per bulan,
turun sangat drastis setelah insersi bola beton dimasukkan (maksimal hanya
1 bubble baru per bulan).
d. Sumur bor penduduk berjarak 500 meter ada yang berubah airnya menjadi
tawar lagi, saat insersi dilakukan

maaf email jawaban ini hanya saya khususkan untuk bapak saja….(takut ada
yang tersinggung)

Pak **********kan di ***** *****, kami menunggu kontribusi
*****-*****…untuk penyelamatan bangsa ini.

Hormat kami

Bagus Endar ITB, Bandung, Indonesia
Ketua TIM HDCB ITB

hdcb 1

hdcb 2

hdcb 3

hdcb 4

Read The Rest of This Entry

« Newer Posts - Older Posts »